Kepasar
Matahari telah terbit setinggi
tombak, kira-kira sekitar jam 9 pagi, saya pun berinisiatif kepasar untuk
membeli barang dagangan, karena barang
daganganku telah banyak yang berkurang, dan juga telah banyak yang habis,
sayapun menghitung uang hasil daganganku yang kudapatkan selama se minggu, Alhamdulillah, aku mendapatkan rejeki
sebanyak Rp. 34.000,00, saya sangat bersyukur kepada allah atas rejeki yang ia
limpahkan kepadaku, akupun meminta izin kepada ibu ku, untuk kepasar, ibupun
juga menitip untuk dibelikan mie, setelah aku terima uang darinya, akupun
membuat catatan kecil di sebuah potongan kertas yang ujurannya kecil apa-apa
saja yang nantinya saya beli, aku pun selesai mengerjakannya. Mama aku pergi
dulu kataku kepadannya dengan senyuman manis yang kuhamparkan kepadanya, ya
nak, hati-hati jawab ibu ku dengan senyuman manis pula kepadaku.
Akupun pergi dengan mengendarai
sepeda tua milik ayahku, dalam perjalananku kepasar mentari selalu menyapaku
dan menemaniku dengan senyuman kecerahannya yang terpancar diwajahnya,
sedangkan angin menampar-nampar tubuhku dengan kesejukannya, tak hanya itu,
mobil, bentor, serta motor luluh lalang melaju dengan kencang mendahuluiku,
selain itu aku melihat sepasang suami istri yang sedang berbincang-bincang di
halaman rumahnya, sepasang suami isri itu adalah tante dan om, saya pun
memandangnya kearah mereka dengan senyuman saja, karena tak ingin mengganggu
kemesraan mereka berdua, akupun melaju dengan sangat cepat, akhirnya akupun
sampai di toko yang aku tuju.
Sepedaku, aku simpan dibawah pohon,
agar dia juga mersakan kesejukan hembusan angin , akupun masuk kedalam toko,
toko ini adalah milik om ku, dia adalh adik sepupu ayahku, namanya h. darwis,
saya melihat seorang gadis yang cantik, kaka cia sapanku kepadanya, dia pun
membalasnya dengan senyuman yang mais kepadaku, dia adalah tanteku, dia seorang
anak yatim piatu, akupun masuk kedalam toko, kemudian aku mengambil catatan
kecil disebuah potongan kertas yang kecil dari dalam saku celanaku, kemudian aku buka dan membacanya, akupun
mencari barabg dagangan yang aku ingin beli, sesekali ku memandangi seluruh
ruangan toko ini, tokoh milik om ku ini, ukurannya sangat kecil, tetapi
walaupun begitu, pembelinya begitu
ramai, karena dia orangnya cerdas dalam ilmu perdagangan, dan tidak hanya itu
dia orangnya sangat ramah dan bijaksana, Alhamdulillah, akhirnya semua barang
dagangsn yang aku butuhkan sudah ada didepan mata, tinggal aku bawa ke om ku,
untuk menghitung berapa banyak yang harus aku bayar, akupun mengambil semua
barang daganganku ke tempatnya, eh nak, sapaanya sambil tersenyum dengan penuh
cinta dan kasih kepadaku, nak, tolong hitungkan harga keseluruhan barang
dagangan kakamu ini, kata om ku kepada putrinya, iya pak sahut putrinya dia uni
panggilan akrabnya, dia sepupy dua kali aku, dengan seriusnya ia menghitung
harg barang dagaganku, akhirnya dia telah selesai menghitungnya, Rp. 36.300,00
kataby kepadaku dengan pancaran kasih sayang kepadaku, kemudian sayapun
mengambil uang disaku celanaku, ketika aku menghitung uang aku, saya kagrt,
tadikan aku bawa uang sebanyak Rp. 37.000,00. Knapa uangku hanya Rp. 27.000,00,
Rp 10.000,00 nya dimana fikranku bertanya-tanya, munkin ketinggalan dirumah,
dalam benakku. akupun berkata kepadanya, pop ice dengan marimas tidak usah dek, karena uang
aku tidak cukup, dia pun mengeluarkan kedua jenis minuman itu dari kantongan
yang telah ia ikat dengan rapi, selanjutnya ia menghitung kembali harga barang
keseluruhan barang daganku, semuanya Rp
25.300,00, kak, katanya kepadaku dengan ekspresi wajahnya begitu serius,
akhirnya akupun membayarnya, sayapun permisi kepada om dan adik sepupuku.
