Senin, 15 Oktober 2012

Kepasar


Kepasar

            Matahari telah terbit setinggi tombak, kira-kira sekitar jam 9 pagi, saya pun berinisiatif kepasar untuk membeli barang  dagangan, karena barang daganganku telah banyak yang berkurang, dan juga telah banyak yang habis, sayapun menghitung uang hasil daganganku yang kudapatkan selama  se  minggu, Alhamdulillah, aku mendapatkan rejeki sebanyak Rp. 34.000,00, saya sangat bersyukur kepada allah atas rejeki yang ia limpahkan kepadaku, akupun meminta izin kepada ibu ku, untuk kepasar, ibupun juga menitip untuk dibelikan mie, setelah aku terima uang darinya, akupun membuat catatan kecil di sebuah potongan kertas yang ujurannya kecil apa-apa saja yang nantinya saya beli, aku pun selesai mengerjakannya. Mama aku pergi dulu kataku kepadannya dengan senyuman manis yang kuhamparkan kepadanya, ya nak, hati-hati jawab ibu ku dengan senyuman manis pula kepadaku.
            Akupun pergi dengan mengendarai sepeda tua milik ayahku, dalam perjalananku kepasar mentari selalu menyapaku dan menemaniku dengan senyuman kecerahannya yang terpancar diwajahnya, sedangkan angin menampar-nampar tubuhku dengan kesejukannya, tak hanya itu, mobil, bentor, serta motor luluh lalang melaju dengan kencang mendahuluiku, selain itu aku melihat sepasang suami istri yang sedang berbincang-bincang di halaman rumahnya, sepasang suami isri itu adalah tante dan om, saya pun memandangnya kearah mereka dengan senyuman saja, karena tak ingin mengganggu kemesraan mereka berdua, akupun melaju dengan sangat cepat, akhirnya akupun sampai di toko yang aku tuju.
            Sepedaku, aku simpan dibawah pohon, agar dia juga mersakan kesejukan hembusan angin , akupun masuk kedalam toko, toko ini adalah milik om ku, dia adalh adik sepupu ayahku, namanya h. darwis, saya melihat seorang gadis yang cantik, kaka cia sapanku kepadanya, dia pun membalasnya dengan senyuman yang mais kepadaku, dia adalah tanteku, dia seorang anak yatim piatu, akupun masuk kedalam toko, kemudian aku mengambil catatan kecil disebuah potongan kertas yang kecil dari dalam saku celanaku,  kemudian aku buka dan membacanya, akupun mencari barabg dagangan yang aku ingin beli, sesekali ku memandangi seluruh ruangan toko ini, tokoh milik om ku ini, ukurannya sangat kecil, tetapi walaupun begitu,  pembelinya begitu ramai, karena dia orangnya cerdas dalam ilmu perdagangan, dan tidak hanya itu dia orangnya sangat ramah dan bijaksana, Alhamdulillah, akhirnya semua barang dagangsn yang aku butuhkan sudah ada didepan mata, tinggal aku bawa ke om ku, untuk menghitung berapa banyak yang harus aku bayar, akupun mengambil semua barang daganganku ke tempatnya, eh nak, sapaanya sambil tersenyum dengan penuh cinta dan kasih kepadaku, nak, tolong hitungkan harga keseluruhan barang dagangan kakamu ini, kata om ku kepada putrinya, iya pak sahut putrinya dia uni panggilan akrabnya, dia sepupy dua kali aku, dengan seriusnya ia menghitung harg barang dagaganku, akhirnya dia telah selesai menghitungnya, Rp. 36.300,00 kataby kepadaku dengan pancaran kasih sayang kepadaku, kemudian sayapun mengambil uang disaku celanaku, ketika aku menghitung uang aku, saya kagrt, tadikan aku bawa uang sebanyak Rp. 37.000,00. Knapa uangku hanya Rp. 27.000,00, Rp 10.000,00 nya dimana fikranku bertanya-tanya, munkin ketinggalan dirumah, dalam benakku. akupun berkata kepadanya, pop ice  dengan marimas tidak usah dek, karena uang aku tidak cukup, dia pun mengeluarkan kedua jenis minuman itu dari kantongan yang telah ia ikat dengan rapi, selanjutnya ia menghitung kembali harga barang keseluruhan  barang daganku, semuanya Rp 25.300,00, kak, katanya kepadaku dengan ekspresi wajahnya begitu serius, akhirnya akupun membayarnya, sayapun permisi kepada om dan adik sepupuku.

Kerinduan Hati sang Nenek

Kerinduan Hati sang Nenek


Sudah sepuluh tahun, kakek meninggalkan kami di dunia fana ini, kini hati nenek hidup sendiri, walaupun begitu nenek tetap tegar menghadapi rintangan didunia yang samentara ini.
Nenek memiliki tujah orang anak satu orang anak perempuan dan enam orang laki-laki, tapi semua ketujuh anaknya telah menemukan pasangan hatinya masing-masing dn telah membangun istana masing-masing, 3 orang anaknya meratapi hidupnya diluar Sulawesi selatan, ada yang tinggal ternate, sorong dan menado, mereka hanya dapat menjenguk nenek dengan jangka waktu menghitung tahun, sedangkan keempat anaknya tinggal sekampung dengannya, walau begitu, dia tetap merindukan penyatuan kebahagiaan cinta yang terajut dengan mereka.
Akhirnya Nenek tinggal diistananya yang ia bangun dengan perjuangan dan  pengorbanan cinta dan kasih sayang serta tenaga bersama kakek, ditemani oleh kakak sepupuku yang bernama saharia, dia di asuh oleh nenek, sekitar umur tiga bulan, dia putrid dari anak pertama nenek yang bernama hasna, kini kakak sahariah telah tumbuh dewasa menjadi seorang gadis yang cantik dan juga pintar, Alhamdulillah pasangan hatinya pun telah datang menjemputnya, hanya beberapa tahun ia bersama pasangan hatinya serta buah hatinya tinggal bersama dengan nenek, ia pun mendapatkan rejeki, sehingga membangun sebuah rumah, akhirnya nenek pun tinggal sendiri di istana itu, tapi hanya sementara, selanjutnya kakak sepupuku yang bernama nurbaya, dia putrid dari anakya bernama sata, kak nurbaya menemani nenek tinggal di istananya dengan hitungan jari saja dalam setiap seminggu, karena kak nurbaya pulang pergi kerumahnya untuk membantu ibunya, jadi, ketika kak nurbaya balik keistananya, nenek pun bagaikan binatang luluh lalang melangkahkan kakinya kerumah saudaranya, anak-anaknya serta cucu-cucunya, memiliki diantara mareka, siapa yang akan ia langkahkan kaki indahnya ke istananya utuk berteduh serta berbagi keceriaan bersamannya, selsnjutnya, kak nurbaya pun meninggalkan nenek, karena pendidikannya yang udah selesai di ma Darussalam, ia pun kembali kerumahnya untuk mengabdikan tenaga serta cinta dan kasih kepada kedua orang tuannya serta kepada adik-aadiknya masih mungil dan imut-imut, nenek pun kembali hidup sendiri di istananya, tapi Alhamdulillah pula, adik  sepupuku yang bernama ana, putrid dari anaknya yang bernama adam, kini tinggal bersama, nenek merasa sangat senang, dan bahagia atas cinta dan kasih sayang yang ia  dapatkan dari cucunya sendiri, hasil dai jeripaya anaknya.
Ketika aku keistananya, menjenguk sekalian bersilaturahim dengannya. Sering aku melihatya duduk dikursi ruang tamunya, matanya memandangi foto anak-anaknya yang meninggalkannya demi memenui kebuthan hidupnya, lama-kelamaan ia pun berlinangkan air mata di bola matannya yang penuh dengan cinta dan kasih sayang.
Dalam benakku berkata, aku mengerti nek, perassaan nenek sekarang, pasti nenek merindukan senyumanya . tawanta, candanya, tutur katanya, terutama panggilan ibu yang tulus dan ikhlas terucap dibibir mareka
 yang penuh dengan sejuta cinta.
            Assalamu alaikum nek sapaanku kepadanya, waalaikumussalam, cucuku jawabnya dengan wajah yang terpancar sejuta cahaya kasih. Silahkan masuk cucuku pintahnya dengan tutur kata yang lembut kepadaku, akupun masuk kedalam istananya, nenek  melayaniku dengan cinta dan kasih sayang yang terpancar diwajahnya yang telah keriput, termakan oleh waktu.


Dasar Bengkak











 Dasar Bengkak          

                Mentari telah redup disiang hari, seakan-akan ia beristirahat sejenak dibalik awan yang biru diatas langit sana, aku resah dirumah, bapak yang sedang pergi ke empang, sedangkan ibu sedang menikmati tidur siangnya, sedangkan aku,  bingun apa yang harus  kulakukan, akhirnya, kulangkahkan kakiku kedepan teras rumahku, kemudian kubalikkan wajahku kearah barat dan melihat kearah rumah sepupuku, hatikupun berkata mendingan gue naik aja kali kerumah sepupu, sapa tau kalau aku kerumahnya gue mendapatkan kegelimpahan cahaya cinta dan kasih sayang diantara kami, guepun melangkahkan kedua kaki ini kerumahnya, mentari menyapaku dengan cahaya keredupannya, sedangkan, angin menampar-nanmpar tubuhku dengan tamparan kesejukannya. Selangka demi selangkah kakiku melangkah dianak tangga, gue sampai diatas rumahnya, sepupukupun melihatku, kak ikbal sapaanya yang begitu lembut kepadaku dan suara nya yang begitu nyaring, ia pun memanggil kakaknya, kak nur, kak ikbal ada didepan sedang duduk-duduk, dek pasti bohong ejekannya kepada adiknya, beneran,  kakak ikbal ada diluar sedang duduk.
            Saya yang sedang asyik duduk memandangi dan mendengarkan perbincangan angin dengan hembusannya, adik sepupuku pun datang menghampiriku dengan mengenakan sarung ditubuhnya dan rambutnya yang belum tertata dengan rapi, serta terlihat basah,   dek nur, baru sudah mandi tanyaku dengan tutur kata yang lembut padannya,  iya kak ikbal, kalau begitu dek nur, kenakan pakaian dulu, kalau sudah selesai barulah de knur kesini, perintahku padannya, iyapun mengikuti apa yang kuperintahkan kepadannya. Dek fiska dan dek lia pun menuju menghampiriku, dek fiska membawa sebuah balon dan segulung benang, kak, tolong pegangkan tempat gulungan benang ini pintahnya padaku, akupun meengikuti perintahnya, kupandangi gerak gerik tubuhnya yang sedang serius menperhatikan panjang ukuran benan yang ia inginkan, kemudian ketika ukuran benang itu telah sepadam, barulah ia mengikatkan dimulut balonnya, sedangkan dek lia sedang sibuk mengotak atik sarungyang sedang dijemu maklum dia masih balita.
            Dek nurpun menghampiri kami yang sedang asyik bermain-main melemparkan senyuman dan kasih sayang diantara kami, dek nurpun duduk disampingku, tiba-tiba saja ia bertanya kepada adiknya dek lia yang masih balita, siapa yang cantik tnaya nur kepadanya, saya  jawab dek lia dengan senyuman yang indah mempesona diwajahnya, de knur melanjutkan pertanyaanya siapa jelek, ka knur jawabnya sambil tertawa seakan-akan ia amatlah meresapi jawabannya sendiri, mendengar semua itu kamipun tertawa terbahak-bahak, hingga ayam serta pohon pisang iri dengan kami, ayam jantan itu menunjukkan keirihannya dengan berkokoh dengan lantan, sedangkan pohon pisang mngibas-ngibaskan wajahnya kepda kami.
            Saya dengan de knur punsaling berhadapan, tak sengaja tanganku ini menyentuh betisnya, ahh teriakanya begitu terasa sakit, kenap Tanyaku dengan keheran-heranan, kakiku bengkak katanya sambil mengangkat celannya untuk memperlihatkan bengkakya itu, akhirnya akupun melihat bengkak dikakinya, waduh besar sekali jawab ku dengan spontan. Ibupun memanggilku untuk pulang, akhirnya aku ermisi dengan de knur, dek fiska dan dek lia, sambil melihatin mereka dengan penuh cinta dan kasih.
            Dua hari kemudian, dek nur kerumah, dan menghampiriku duduk di kursi plastikku akupun mempersilahkannya dengan hormat padanya, iyapun duduk disampingku sambil makan-makan mie, sekitar 15 menit kemudian, iyapun memperlihatkan bengkatan kakinya itu kepadaku, Alhamdulillah bengkatan kakiku udah menetas melahirkan cucuran darah dan nanah, walau begitu dia tetap mesakan sakit yang begitu mendalam ia sulit untuk berjaln, jika ia berjalan ia seperti orang yang pincang saja, sayapun berkata dasr bengkak, ngeselin banget sih udah jelek, udah jahat, ca..pedeh, ejekanku kepadannya.