Senin, 15 Oktober 2012

Dasar Bengkak











 Dasar Bengkak          

                Mentari telah redup disiang hari, seakan-akan ia beristirahat sejenak dibalik awan yang biru diatas langit sana, aku resah dirumah, bapak yang sedang pergi ke empang, sedangkan ibu sedang menikmati tidur siangnya, sedangkan aku,  bingun apa yang harus  kulakukan, akhirnya, kulangkahkan kakiku kedepan teras rumahku, kemudian kubalikkan wajahku kearah barat dan melihat kearah rumah sepupuku, hatikupun berkata mendingan gue naik aja kali kerumah sepupu, sapa tau kalau aku kerumahnya gue mendapatkan kegelimpahan cahaya cinta dan kasih sayang diantara kami, guepun melangkahkan kedua kaki ini kerumahnya, mentari menyapaku dengan cahaya keredupannya, sedangkan, angin menampar-nanmpar tubuhku dengan tamparan kesejukannya. Selangka demi selangkah kakiku melangkah dianak tangga, gue sampai diatas rumahnya, sepupukupun melihatku, kak ikbal sapaanya yang begitu lembut kepadaku dan suara nya yang begitu nyaring, ia pun memanggil kakaknya, kak nur, kak ikbal ada didepan sedang duduk-duduk, dek pasti bohong ejekannya kepada adiknya, beneran,  kakak ikbal ada diluar sedang duduk.
            Saya yang sedang asyik duduk memandangi dan mendengarkan perbincangan angin dengan hembusannya, adik sepupuku pun datang menghampiriku dengan mengenakan sarung ditubuhnya dan rambutnya yang belum tertata dengan rapi, serta terlihat basah,   dek nur, baru sudah mandi tanyaku dengan tutur kata yang lembut padannya,  iya kak ikbal, kalau begitu dek nur, kenakan pakaian dulu, kalau sudah selesai barulah de knur kesini, perintahku padannya, iyapun mengikuti apa yang kuperintahkan kepadannya. Dek fiska dan dek lia pun menuju menghampiriku, dek fiska membawa sebuah balon dan segulung benang, kak, tolong pegangkan tempat gulungan benang ini pintahnya padaku, akupun meengikuti perintahnya, kupandangi gerak gerik tubuhnya yang sedang serius menperhatikan panjang ukuran benan yang ia inginkan, kemudian ketika ukuran benang itu telah sepadam, barulah ia mengikatkan dimulut balonnya, sedangkan dek lia sedang sibuk mengotak atik sarungyang sedang dijemu maklum dia masih balita.
            Dek nurpun menghampiri kami yang sedang asyik bermain-main melemparkan senyuman dan kasih sayang diantara kami, dek nurpun duduk disampingku, tiba-tiba saja ia bertanya kepada adiknya dek lia yang masih balita, siapa yang cantik tnaya nur kepadanya, saya  jawab dek lia dengan senyuman yang indah mempesona diwajahnya, de knur melanjutkan pertanyaanya siapa jelek, ka knur jawabnya sambil tertawa seakan-akan ia amatlah meresapi jawabannya sendiri, mendengar semua itu kamipun tertawa terbahak-bahak, hingga ayam serta pohon pisang iri dengan kami, ayam jantan itu menunjukkan keirihannya dengan berkokoh dengan lantan, sedangkan pohon pisang mngibas-ngibaskan wajahnya kepda kami.
            Saya dengan de knur punsaling berhadapan, tak sengaja tanganku ini menyentuh betisnya, ahh teriakanya begitu terasa sakit, kenap Tanyaku dengan keheran-heranan, kakiku bengkak katanya sambil mengangkat celannya untuk memperlihatkan bengkakya itu, akhirnya akupun melihat bengkak dikakinya, waduh besar sekali jawab ku dengan spontan. Ibupun memanggilku untuk pulang, akhirnya aku ermisi dengan de knur, dek fiska dan dek lia, sambil melihatin mereka dengan penuh cinta dan kasih.
            Dua hari kemudian, dek nur kerumah, dan menghampiriku duduk di kursi plastikku akupun mempersilahkannya dengan hormat padanya, iyapun duduk disampingku sambil makan-makan mie, sekitar 15 menit kemudian, iyapun memperlihatkan bengkatan kakinya itu kepadaku, Alhamdulillah bengkatan kakiku udah menetas melahirkan cucuran darah dan nanah, walau begitu dia tetap mesakan sakit yang begitu mendalam ia sulit untuk berjaln, jika ia berjalan ia seperti orang yang pincang saja, sayapun berkata dasr bengkak, ngeselin banget sih udah jelek, udah jahat, ca..pedeh, ejekanku kepadannya.

0 komen choii:

Posting Komentar