Dasar Bengkak
Mentari telah redup disiang hari, seakan-akan ia beristirahat sejenak dibalik awan yang biru diatas langit sana, aku resah dirumah, bapak yang sedang pergi ke empang, sedangkan ibu sedang menikmati tidur siangnya, sedangkan aku, bingun apa yang harus kulakukan, akhirnya, kulangkahkan kakiku kedepan teras rumahku, kemudian kubalikkan wajahku kearah barat dan melihat kearah rumah sepupuku, hatikupun berkata mendingan gue naik aja kali kerumah sepupu, sapa tau kalau aku kerumahnya gue mendapatkan kegelimpahan cahaya cinta dan kasih sayang diantara kami, guepun melangkahkan kedua kaki ini kerumahnya, mentari menyapaku dengan cahaya keredupannya, sedangkan, angin menampar-nanmpar tubuhku dengan tamparan kesejukannya. Selangka demi selangkah kakiku melangkah dianak tangga, gue sampai diatas rumahnya, sepupukupun melihatku, kak ikbal sapaanya yang begitu lembut kepadaku dan suara nya yang begitu nyaring, ia pun memanggil kakaknya, kak nur, kak ikbal ada didepan sedang duduk-duduk, dek pasti bohong ejekannya kepada adiknya, beneran, kakak ikbal ada diluar sedang duduk.
Saya yang sedang asyik duduk
memandangi dan mendengarkan perbincangan angin dengan hembusannya, adik
sepupuku pun datang menghampiriku dengan mengenakan sarung ditubuhnya dan
rambutnya yang belum tertata dengan rapi, serta terlihat basah, dek nur, baru sudah mandi tanyaku dengan
tutur kata yang lembut padannya, iya kak
ikbal, kalau begitu dek nur, kenakan pakaian dulu, kalau sudah selesai barulah
de knur kesini, perintahku padannya, iyapun mengikuti apa yang kuperintahkan
kepadannya. Dek fiska dan dek lia pun menuju menghampiriku, dek fiska membawa
sebuah balon dan segulung benang, kak, tolong pegangkan tempat gulungan benang
ini pintahnya padaku, akupun meengikuti perintahnya, kupandangi gerak gerik
tubuhnya yang sedang serius menperhatikan panjang ukuran benan yang ia
inginkan, kemudian ketika ukuran benang itu telah sepadam, barulah ia
mengikatkan dimulut balonnya, sedangkan dek lia sedang sibuk mengotak atik
sarungyang sedang dijemu maklum dia masih balita.
Dek nurpun menghampiri kami yang
sedang asyik bermain-main melemparkan senyuman dan kasih sayang diantara kami,
dek nurpun duduk disampingku, tiba-tiba saja ia bertanya kepada adiknya dek lia
yang masih balita, siapa yang cantik tnaya nur kepadanya, saya jawab dek lia dengan senyuman yang indah
mempesona diwajahnya, de knur melanjutkan pertanyaanya siapa jelek, ka knur
jawabnya sambil tertawa seakan-akan ia amatlah meresapi jawabannya sendiri,
mendengar semua itu kamipun tertawa terbahak-bahak, hingga ayam serta pohon
pisang iri dengan kami, ayam jantan itu menunjukkan keirihannya dengan berkokoh
dengan lantan, sedangkan pohon pisang mngibas-ngibaskan wajahnya kepda kami.
Saya dengan de knur punsaling
berhadapan, tak sengaja tanganku ini menyentuh betisnya, ahh teriakanya begitu
terasa sakit, kenap Tanyaku dengan keheran-heranan, kakiku bengkak katanya
sambil mengangkat celannya untuk memperlihatkan bengkakya itu, akhirnya akupun
melihat bengkak dikakinya, waduh besar sekali jawab ku dengan spontan. Ibupun
memanggilku untuk pulang, akhirnya aku ermisi dengan de knur, dek fiska dan dek
lia, sambil melihatin mereka dengan penuh cinta dan kasih.
Dua hari kemudian, dek nur kerumah,
dan menghampiriku duduk di kursi plastikku akupun mempersilahkannya dengan
hormat padanya, iyapun duduk disampingku sambil makan-makan mie, sekitar 15
menit kemudian, iyapun memperlihatkan bengkatan kakinya itu kepadaku,
Alhamdulillah bengkatan kakiku udah menetas melahirkan cucuran darah dan nanah,
walau begitu dia tetap mesakan sakit yang begitu mendalam ia sulit untuk
berjaln, jika ia berjalan ia seperti orang yang pincang saja, sayapun berkata
dasr bengkak, ngeselin banget sih udah jelek, udah jahat, ca..pedeh, ejekanku
kepadannya.

0 komen choii:
Posting Komentar