NENEK PANNAMPU
Suasana shubuh yang begitu menyenangkan,
angin menghembuskan nafasnya dengan kesegaran, serta menampar-nampar tubuh ini
dengan kesejukan, bintang-bintang dan bulan mulai menghilang, mentari mulai terbit
dibalik bukit upuk timur sana, burung-burung berterbangan sambil berkicau-kicau
seakan-akan ia menyayikan lagu untukku.
Hari ini adalah hari terakhirku
membagi keceriaan, senyumanku, tawaku, serta candaku bersama keluargaku yang
tercinta dikampungku ini, karena hari ini saya akan kembali kemakassar untuk
melanjutkan perkuliahan seperti biasa.sayapun memint pamit kepada kedua orang
tuaku serta kepada keluarga ibu dan bapak, pagi yang begitu cerah secerah
wajahku dipagi hari ini. Akhirnya kutinggalkn kampungku bersama keluarga, namun
walau begitu hati ini tak akan pernah melupakan mereka, karena tanpa mereka
jiwa dan ragaku tak berarti di dunia ini dalam benakku.
Dalam perjalananku, ya, seperti
biasa, dari kampungku ke Makassar, saya harus naik pete-pete sebanyak 3 kali,
Alhamdulillah, akhirnya aku sampai dijalan raya sekaligus sebagai tempat untuk
mengambil pete-pete menuju ke daya, mobil, motor, serta bentor lulu lalang
didepanku, siswa-siswi berjejer dipinggir jalan sambil bergurau bersama
teman-temanya, sedangkan aku berdiri sepi disini, dibawah pohon rindang,
kuarahkan pandanganku disebrang jalanan saya, tiba-tiba kumelihat sosok seorang
pemuda yang sedang membonceng nenek tua yang sudah berusia senja, dalam
fikiranku pemuda itu adalah seorang anak yang sangat berbakti, kupandangi mereka
dengan wajah yang berseri, tiba-tiba mereka berhenti disebrangku, kemudian
nenek itu memberi uang kepada pemuda itu, ternyta pemuda tersebut bukanlah
anaknya, tetapi pemuda tersebut adalah tukang ojek, nenek itu bergabung bersama
kedua perempuan dewasa yang sedang berada ditemapat itu, akhirnya pete-pete
yang menuju ke daya pun telah ada, eh ternyata nenek dan kedua perempuan dewasa
tersebut juga sama tujuan kami, sehingga aku dan mereka sepete-pete dengan
mereka, barangkupun kusimpan didepan pintu pete-pete tersebut karena padatnya
penumpang, akupun begitu, aku tak merasa asyik seperti penupang lainnya karena
padatnya penumpang akhirnya aku duduk seadaya saja. Pete-pete tersebutpun
melaju dengan cepat secepat kilat yang menyambar, betisku gemetar dan sekujur
tubuhku saki terutama bokonku, tetapi aku tetap terus menahan sakitnya.
Mata indah ciptaanya ini asyik
memandangi pemandangan dalam perjalananku, sawah-sawah yang tandus karena musim
panas yang berkepanjangan tahun ini, para pedagang dipinggir jalan yang sedang
menanti para pembeli, bangunan-bangunan rumah penduduk dari tradisional ke
modern dari bahan kayu hingga semen, betapa besar nikmat yang telah engkau
berikan kepada kami terutama kepintaran, dari nikmat inilah dunia dapat
terbentuk seperti ini, walaupun tak seindah, serapi dengan apa yang engkau
ciptakan dipermukaan bumi ini. Tiba-tiba kumendengar suara yang halus, tapi
udah tak segar seperti suaraku atau seusiaku, kubalikkan wajahku dengan mata
yang berseri dan tersenyum dengan penuh keikhlasan, dan ternyata suara itu
adalah nenek tua yang tadi saya lihat, ketika menanti pete-pete, nak ada uang
kecilmu, uang nenek Rp. 50.000 nak, maaf yang nek, saya tidak punya uang kecil
nek.dalam benakku nenek ini sangat pemberani pergi dengan sendiri dalam perjalanan
yang jauh, apalagi kondisi sekarang criminal-kriminal bebas ada dimana-mana.
Satu-persatu penumpang turun ditempat tujuannya, dan satu persatu pula
penumpangpun ada, akhiranya seimbang deh.
Kini kamipun sudah berada didaerah
mandai yang sudah dekat dengan tempat tujuan, Alhamdulillah penumpang yang
berada ditempat duduk didepanku turun, hingga akhirnya kumeminta kepada salah
seorang ibu yang duduk disitu agar mengatur duduknya, hingga kudapat duduk
disitu, wah begitu nyamanya perasaan ini, ehtiba-tiba kumemandang kearah tempat
dudukku tadi, kemudian sorang cewek memandangiku sambil tersenyum dengan
setulus hati sehingga terpancar cahaya diwajahnya dengan bentuk keimutan dan
kemanisan wajahnya begitupun denganku, kutatap wajahnya dengan menamparnya dengan
keimutan dan kemanisan wajahku pula kepadanya. Angin masuk kesela-sela jendela
menan[par kami dengan tamparan kesejukan, mentari menyapa dengan senyuman
keceriaanya sepanjang zaman, sedangkan langit sedang asyik mengikuti kami
bersama teman-temanya sibiru dan siputih.
Akhirnya kamipun sampai didaerah
daya tiba-tiba nenek tua itu berkata kepada pak supir ke pannampu ki daeng, pak
supir itupun menjawab, maaf nek, daerah tersebut udah lewat dari tadi nek,
mendengar jawaban pak suir itu rauk wajah nenek tua itu berubah cenmas dan
pucat, saya dan para penumpang lainnya sangat khawatir kepadanya. Tapi
Alhamdulillah pak sufir itu berhati emas sekali, dia tidak memikirkan uang
saja, tapi memikirkan kebahagiaan penumpangnya, sehingga rela mengantar nenek
tua itu ketempat dimana ia dapat menyambung arak ketempat ia tuju yakni
PANNAMPU.

0 komen choii:
Posting Komentar