Kamis, 01 November 2012

Nenek Pannampu


NENEK PANNAMPU
           Suasana shubuh yang begitu menyenangkan, angin menghembuskan nafasnya dengan kesegaran, serta menampar-nampar tubuh ini dengan kesejukan, bintang-bintang dan bulan mulai menghilang, mentari mulai terbit dibalik bukit upuk timur sana, burung-burung berterbangan sambil berkicau-kicau seakan-akan ia menyayikan lagu untukku.
            Hari ini adalah hari terakhirku membagi keceriaan, senyumanku, tawaku, serta candaku bersama keluargaku yang tercinta dikampungku ini, karena hari ini saya akan kembali kemakassar untuk melanjutkan perkuliahan seperti biasa.sayapun memint pamit kepada kedua orang tuaku serta kepada keluarga ibu dan bapak, pagi yang begitu cerah secerah wajahku dipagi hari ini. Akhirnya kutinggalkn kampungku bersama keluarga, namun walau begitu hati ini tak akan pernah melupakan mereka, karena tanpa mereka jiwa dan ragaku tak berarti di dunia ini dalam benakku.
            Dalam perjalananku, ya, seperti biasa, dari kampungku ke Makassar, saya harus naik pete-pete sebanyak 3 kali, Alhamdulillah, akhirnya aku sampai dijalan raya sekaligus sebagai tempat untuk mengambil pete-pete menuju ke daya, mobil, motor, serta bentor lulu lalang didepanku, siswa-siswi berjejer dipinggir jalan sambil bergurau bersama teman-temanya, sedangkan aku berdiri sepi disini, dibawah pohon rindang, kuarahkan pandanganku disebrang jalanan saya, tiba-tiba kumelihat sosok seorang pemuda yang sedang membonceng nenek tua yang sudah berusia senja, dalam fikiranku pemuda itu adalah seorang anak yang sangat berbakti, kupandangi mereka dengan wajah yang berseri, tiba-tiba mereka berhenti disebrangku, kemudian nenek itu memberi uang kepada pemuda itu, ternyta pemuda tersebut bukanlah anaknya, tetapi pemuda tersebut adalah tukang ojek, nenek itu bergabung bersama kedua perempuan dewasa yang sedang berada ditemapat itu, akhirnya pete-pete yang menuju ke daya pun telah ada, eh ternyata nenek dan kedua perempuan dewasa tersebut juga sama tujuan kami, sehingga aku dan mereka sepete-pete dengan mereka, barangkupun kusimpan didepan pintu pete-pete tersebut karena padatnya penumpang, akupun begitu, aku tak merasa asyik seperti penupang lainnya karena padatnya penumpang akhirnya aku duduk seadaya saja. Pete-pete tersebutpun melaju dengan cepat secepat kilat yang menyambar, betisku gemetar dan sekujur tubuhku saki terutama bokonku, tetapi aku tetap terus menahan sakitnya.
            Mata indah ciptaanya ini asyik memandangi pemandangan dalam perjalananku, sawah-sawah yang tandus karena musim panas yang berkepanjangan tahun ini, para pedagang dipinggir jalan yang sedang menanti para pembeli, bangunan-bangunan rumah penduduk dari tradisional ke modern dari bahan kayu hingga semen, betapa besar nikmat yang telah engkau berikan kepada kami terutama kepintaran, dari nikmat inilah dunia dapat terbentuk seperti ini, walaupun tak seindah, serapi dengan apa yang engkau ciptakan dipermukaan bumi ini. Tiba-tiba kumendengar suara yang halus, tapi udah tak segar seperti suaraku atau seusiaku, kubalikkan wajahku dengan mata yang berseri dan tersenyum dengan penuh keikhlasan, dan ternyata suara itu adalah nenek tua yang tadi saya lihat, ketika menanti pete-pete, nak ada uang kecilmu, uang nenek Rp. 50.000 nak, maaf yang nek, saya tidak punya uang kecil nek.dalam benakku nenek ini sangat pemberani pergi dengan sendiri dalam perjalanan yang jauh, apalagi kondisi sekarang criminal-kriminal bebas ada dimana-mana. Satu-persatu penumpang turun ditempat tujuannya, dan satu persatu pula penumpangpun ada, akhiranya seimbang deh.
            Kini kamipun sudah berada didaerah mandai yang sudah dekat dengan tempat tujuan, Alhamdulillah penumpang yang berada ditempat duduk didepanku turun, hingga akhirnya kumeminta kepada salah seorang ibu yang duduk disitu agar mengatur duduknya, hingga kudapat duduk disitu, wah begitu nyamanya perasaan ini, ehtiba-tiba kumemandang kearah tempat dudukku tadi, kemudian sorang cewek memandangiku sambil tersenyum dengan setulus hati sehingga terpancar cahaya diwajahnya dengan bentuk keimutan dan kemanisan wajahnya begitupun denganku, kutatap wajahnya dengan menamparnya dengan keimutan dan kemanisan wajahku pula kepadanya. Angin masuk kesela-sela jendela menan[par kami dengan tamparan kesejukan, mentari menyapa dengan senyuman keceriaanya sepanjang zaman, sedangkan langit sedang asyik mengikuti kami bersama teman-temanya sibiru dan siputih.
            Akhirnya kamipun sampai didaerah daya tiba-tiba nenek tua itu berkata kepada pak supir ke pannampu ki daeng, pak supir itupun menjawab, maaf nek, daerah tersebut udah lewat dari tadi nek, mendengar jawaban pak suir itu rauk wajah nenek tua itu berubah cenmas dan pucat, saya dan para penumpang lainnya sangat khawatir kepadanya. Tapi Alhamdulillah pak sufir itu berhati emas sekali, dia tidak memikirkan uang saja, tapi memikirkan kebahagiaan penumpangnya, sehingga rela mengantar nenek tua itu ketempat dimana ia dapat menyambung arak ketempat ia tuju yakni PANNAMPU.

0 komen choii:

Posting Komentar