Kamis, 01 November 2012

Keluargaku Kekasih Allah


KELUARAGAKU KEKASIH ALLAH
Di sebuah desa, desa ini diberi nama sebagai desa amanatullah, di karenakan penduduk disini sangat memegang teguh syariat islam serta hukum adat yang berlaku di desa tersebut. Di desa ini dipimpin oleh seseorang yang sangat mengetahui banyak tentang syariat islam atau biasa dipanggil sebagai kiai dan juga ustads, pak kiai tersebut bernama pak Akram yang telah berusia 55 tahun, diapun masih didampingi oleh sang istrinya, istrinya bernama ibu Azizah, mereka berduapun dikaruniakan dua orang anak perempuan dari allah swt, mereka sangat bersyukur atas nikmat yang telah diberikan kepadanya. Mereka berdua merawat dan menjaganya dengan kasih sayang yang tulus kepada mereka berdua, waktu pun berputar dan berputar, anak pertamanya yang ia beri nama Wulandari, kini telah tumbuh menjadi sosok seorang gadis yang cantik serta memiliki akhlak yang  kharimah serta tumbuh menjadi seorang gadis yang anggun dan lugu, begitupun dengan anak perempuannya yang kedua, yang mereka beri nama Ummu, yang kini juga telah tumbuh menjadi seorang gadis yang memiliki akhlakul kharimah, namun perbedaanya dari anak pertamanya terdapat dari pola pikir mereka, Wulandari anaknya yang pertama kini telah memasuki masa kedewasaan, dimana dimasa ini, sudah pemikiran-pemikiran yang mengarah ke masa depan baik itu karir maupun dan terutama menjadi seorang istri, sedangkan Ummu masih memasuki masa remaja, dimana seorang anak yang mengiginkan curahan cinta dan kasih sayang dibutuhkan olehnya sampai menuju ke masa kedewasaan.
Sepertiga malam pak Akram bangun dari tidurnya, kemudian membangunkan istrinnya dan kedua putrinnya dan melaksanakan shalat sunnah tahajjud serta melanjutkan shalat sunnah witir, setelah mereka shalat, mereka bersama-sama mengaji, tak terasa adzan shubuh pun berkumandang di desa amantullah ini, keluarga pak Akram pergi bersama-sama menuju ke mesjid untuk melaksanakan salah satu kewajibannya yakni shalat shubuh,  begitu pula dengan anggota masyarakat yang tinggal di desa  ini.
Matahari pun terbit di balik bukit di sebelah timur sana, burung-burung terbang bersama-sama sambil berkicau-kicau, sedangkan para tumbuhan meregankan seluruh tubuhnya, serta para hewan pun berolahraga di pagi hari itu. Wulandari dan Ummu bersama-sama membersihkan tempat tidurnya, ketika Wulandari membuka gorden jendelanya sinar matahari masuk kedalam ruangan kamarnya menerangi seluruh ruangan kamar ini, Wulandari pun termenung sejenak dan bercakap di dalam hatinya “ ya allah sunguh maha besar engkau ya allah, karena dengan kebesaranmulah serta kasih sayangmu, engkau menciptakan seluruh makhluk yang ada di permukaan bumi ini dan engkau menciptakan matahari sebagai penerang didalam kehidupan kami, terimah kasih ya allah, ” kak, lagi ngapain kak, kata Ummu, kakak hanya memanjatkan kata syukur kepada allah dek,  maksudnya kak, lihatlah sinar matahari ini dek yang menyinari seluruh ruangan ini dengan meneteskan air matanya, allah dek sangat sayang kepada seluruh makhluknya yang tak henti-hentinya dia beirkan kepada kita, makna dari sinar matahari ini dek adalah bukti kasih sayang allah kepada kita dek, kak, saya sangat bangga memiliki kakak sepertimu, kakak tak hanya cantik di luar ( fisik ) tetapi juga cantik didalam ( hati ), terutama kakak sangat mencintai allah,  dengan nada suara yang pelan serta meneteskan air matanya dan berkata kepada adiknya “ dek, kita diciptkan di dunia ini, hanyalah sementara, dan sebenarnya dek kehidupan kita adalah kehidupan akhirat, jadi kita hanya sekedar menumpang di dunia ini untuk mencari bekal untuk mendapat keridhaan allah swt kelak di kehidupan akhirat dek.” Kakak, kamu tidak hanya sebagai kakak di dalam kehidupan ini, tetapi juga sebagai obat bius bagi hati ini, karena dengan kata-katamu yang menyentuh hatiku, itu semua dapat terjadi dengan kebesaran cinta tulus kakak kepada allah, jadi adikku ini tidak boleh nakal ya, jadilah adikku yang baik terhadap sesama manusia, serta makhluk ciptaanya yang ada di dunia, ia kak, adikmu juga akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencintainya diatas segala-galanya, dengan hati yang gembira serta kekuatan kasih sayang mereka berdua saling berpelukan serta sama-sama meneteskan air mata, ibunya pun menuju ke kamar putrid-putrinya, tanpa mengucapkan salam sebelum masuk kedalam kamar putrid-putrinya, dia melihat kedua anaknya saling berpelukan serta melihat tetesan air mata kedua putrinya membasahi wajahnya, ibnya pun melangkahkan kakinya menuju ke putri-putrinya, kedua putrinya pun melihat sang ibu yang sedang berdiri di depannya, merekapun melepaskan pelukannya dan menghapus air mata yang membasahi wajah mereka, nak, lagi ngapain, kenapa kalian berdua berpelukan sampai-sampai kalian meneteskan air matamu sehingga membasahi wajahmu, khadijah pun memjawab pertanyaan yang di ajukan oleh sang ibu, begini bu, khadijah hanya menjelaskan kepada adikku ini mengenai, betapa besarnya kasih sayang yang ia limpahkan kepada kita dalam memjalani kehidupan di dunia fana ini, sehingga adik tersentuh apa yang ku katakan kepadanya. Alhamdulillah ibu sangat bersyukur dikarunia putri yang tidak hanya cantik tapi juga  sangat cinta kepada allah swt. Kemari nak, ibu sudah lama tidak merasakan pelukan kalian, ibu ingin memelukmu, kedua putrinya menghampiri ibunya yang telah menanti pelukannya, mereka pun berpelukan dengan hati yang tulus dan ikhlas. Nak, mari kita ke dapur untuk menyiapkan makan pagi yang special buat ayahmu, cepat bu, kata Ummu dengan lantang dan penuh semangat, mereka bertiga pun bergegas ke dapur dan berdiskusi mengenai masakan special yang ingin diberikan kepada pak Akram, nah, Ummu punya ide ni bu, bagaimana kalau kita  masakkan ayah adalah sayur tumis kemudian di campur dengan kacang, terasi dan Lombok, sedangkan lauknya kita buatkn tempe kripik kemudian di buatkan sambal yang campuranya Lombok tumis dan juga jeruk purung, uh.. pasti ayah ketagihan dan semangat makan, ide yang bagus dek, kata dijah, bagaimana ide ini diterima atau tidak bu, masya allah, isyah memang benar-benar pintar kalau urusan makan-makanan, ibu tidak usah memuji begitu bu…, kak, kalau kakak idenya apa ???, kalau kakak, bagaimana kalau kita buatkan bapak gorengan pisang serta pisang pepet sekalian kita bagikan kepada tetangga?! Ummu, sangat setuju dengan usulan kakak, bu, bagaimana bu usulan kakak diterimahkan bu ? masya allah kedua putri ibu sangat cerdas dan juga memperhatikan kehidupan orang-orang yang  stratanya yang rendah.
Mereka pun bergegas untuk menyiapkan peralatan, perlengkapan serta bahan-bahan yang di butuhkan, serta membagi tugasnya masing-masing, Wulan mengupas kulit pisang serta membentuk pisang tersebut sesuai dengan yang direncanakannya, kemudian Ummu sedang memotong –motong tempe serta sayur-sayuran yang dibutuhkanya, sedangkan ibunya menumbuk kacang, Lombok kecil serta rempah-rempah yang dibutuhkan untuk menumis sayur tersebut, sekitar 30 menit kemudian pekerjaannya masing-masing sudah selesai, akhirnya mereka memasak serta menggoreng, suasana yang begitu sejuk membuat mereka semangat, kebahagiaan, tawa, canda terhampar di ruangan ini. Akhirnya masakan special  untuk pak Akram telah selesai, tinggal dinikmati oleh pak Akram, sekitar 15 menit kemudian, didepan teras terdengar suara pak Akram yang sedang mengucapkan salam “ assalamu alaikum bu “ salam pak Akram ia ulangi tiga kali, namun salamnya tak seorangpun yang menjawabnya, Pak Akram pun melangkahkan kakinya  masuk kerumahnya, dan memandang kearah kanan dan kiri, tapi sangat sepi, tak ada suara-suara keberadaan bahwa keluarganya berada di rumah, sehingga dia menyimpulkan bahwa tak ada orang-orang dirumahnya, kemudian dia menuju ke ruang makan, beberapa langkah lagi dia sudah sampai di ruang makan, istri dan juga anak-anaknya telah menghidangkan sarapan di meja makan, mereka bertiga berdiri di depan meja, langkahan kaki kanan pak Akram telah masuk di ruang makan, teriakan sang istri dan anak-anaknya mengagetkannya, mereka bertiga pun menyambut pak Akram dengan senyuman yang ceria, pak Akram pun menuju ke istrinya dan kedua putrid-putrinya, yang sudah lama menunggu kedatangannya, ibu azizah dan juga kedua putrinya Wulandari dan Ummu menyambut kedatangan pak Akram dengan raut wajah yang berseri-seri, ibu azizah menyapanya dengan nada suara yang  begitu merdu, ayah ayah ayah…, diapun meenyiapkan kursi untuk pak Akram, pendengaran serta penglihatannya tak pernah terbayangkang difikirannya tentang sang istrinya, karena selama ia berumah tangga ibu azizah tak perna  semesra ini, entah kenapa sang istrinya melakukan semua ini kepadanya. Ayah lagi memikirkan apa, kata ibu azizah, ayah hanya terkejut dengan semua ini, kemari pak, kita makan bersama, dengan penuh semangat, Ummu spontan mengulangi perkataan ibundannya, iya bu, nak, pak Akram pun menuju kesana, ayah duduk disini, ibu sudah siapkan tempat untukmu, Wulandari serta adiknya Ummu tersenyum lebar melihat kemesraan kedua orang tuannya, cie-cie ibu dan ayah sudah lupa atas keberadaan kami berdua di tempat ini sahut putrid-putrinya kepadanya, mereka berdua pun melotopi kedua putrinnya dengan raut wajah yang penuh dengan kebahagiaan, kemari nak, sahut ayahnya, pasti kalian ya membuat kejutan ini kepada ayah, bukan pak, tapi ini murni dari pemikiran ibu, sahut kedua putrinya, pak arkan pun memandang wajah ibu azizah sehingga membuat ibu azizah jadi malu dan menundukkan wajahnya, kemudian pak Akram menghelai kepala ibu azizah dan berkata, ibu… terimah kasih atas kesetiaanmu  kepadaku serta cinta dan kasih sayang tulusmu padaku, ibu azizah pun menaikkan wajahnya degan senyum yang lebar ia tebarkan kepada sang suami, dan berkata kepada suaminya, ayah, tidak usah berkata seperti itu, karena ini sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang istri, selain itu ibu juga sangat menyanyangi ayah, apalagi sekarang kita tidak berdua menjalani kehidupan di dunia ini, tetapi kita telah di karuniakan oleh allah swt
dua orang putri yang cantik-cantik serta berbakti kepada kita yah, iya, perkataan ibu benar, sekarang tugas kita memberikan curahan kasih sayang serta nasehat-nasehat kepada putrid-putri kita, agar mereka mampu menjalani seluk beluk di dunia fana ini, mereka berdua pun memandang kearah kedua anaknya dengan senyuman yang tulus terhadapnya, kedua putrinya pun memandang kedua orang tuanya dengan pandangan yang sama, kedua orang tuanya memanggilnya untuk mendekat kepadanya, kedua anaknya pun meghampiri kedua orang tuanya, nak, jadilah seorang hamba yang takut kepada allah serta menjadi anggota masyarakat yang menghargai serta sopan santun terhadap anggota masyarakat desa ini, janganlah memandang jabatan ayahmu di desa ini, tapi berpegang teguhlah kepada ajaran allah yaitu al qur’an dan al hadist, karena hanya kedua inilah yang menjadi pedoman kita dalam melakukan sesuatu di dunia ini, perkataan ayahnya kepadanya. Suasana yang begitu menyejukkan hati mereka seakan-akan  mereka berada di padang rumput yang luas dan menghirup udara yang segar serta merasakan kesegaran angin yang tertiup dari sebelah barat.  Bu, nak, kemari, sahut pak Akram kepada mereka, mereka bertiga pun mendekat kepada pak Akram, “pak Akram berkata kepada mereka, bu nak, saya kangen dengan pelukan kalian” mereka pun mendekat ke pak Akram dan merekapun berpelukan, kebahagiaan kita tak dapat di beli dengan apapun, tetapi kebahagiaan kita akan selama-lamanya akan kekal tidak hanya di dunia, tetapi juga di kehidupan akhirat, “ sahut pak Akram, kepada mereka” Ummu pun melepaskan tangan kedua orang tuanya dan juga kakaknya, eh ayah, ibu dan kakak, marilah kita makan, perut Ummu udah bunyi-bunyi ni…, yah, kami menyiapkan makanan spe…cial  untukmu, khadijah pun membuka penutup makanan tersebut, Alhamdulillah, makanan ini adalah makanan kesukaan ayah, waktu nenek kalian masih hidup, nenek kalian sangat sayang sama ayah, jadi ketika kakek kalian mendapat rejeki, nenek kalian membuatkan masakan ini, karena ketika pertama kali nenekmu membuat masakan ini, ayah semangat sekali makan masakan ini, sahut pak Akram kepada keluarganya. Istri pak Akram  ibu azizah mengambilkan piring  untuk pak Akram, kedua putrinya pun duduk di tempat yang mereka inginkan masing-masing, sebelum kita makan ayah memimpin membaca do’a sebelum kita nikmati  makanan yang dihadapan kita, supaya kita semua tak lupa mensyukuri atas berkah yang diberikan kepada kita. Sesudah mereka berdo’a, mereka makan bersama-sama. Kebahagiaan adalah sebuah anugrah dari allah swt allah, kepada hamba yang menaati semua peraturannya dalam menjalani kehidupan dunia ini, keluarga tak dapat di tukar dengan apapun, karena keluarga merupakan anugrah yang terindah di dunia ini.









Nenek Pannampu


NENEK PANNAMPU
           Suasana shubuh yang begitu menyenangkan, angin menghembuskan nafasnya dengan kesegaran, serta menampar-nampar tubuh ini dengan kesejukan, bintang-bintang dan bulan mulai menghilang, mentari mulai terbit dibalik bukit upuk timur sana, burung-burung berterbangan sambil berkicau-kicau seakan-akan ia menyayikan lagu untukku.
            Hari ini adalah hari terakhirku membagi keceriaan, senyumanku, tawaku, serta candaku bersama keluargaku yang tercinta dikampungku ini, karena hari ini saya akan kembali kemakassar untuk melanjutkan perkuliahan seperti biasa.sayapun memint pamit kepada kedua orang tuaku serta kepada keluarga ibu dan bapak, pagi yang begitu cerah secerah wajahku dipagi hari ini. Akhirnya kutinggalkn kampungku bersama keluarga, namun walau begitu hati ini tak akan pernah melupakan mereka, karena tanpa mereka jiwa dan ragaku tak berarti di dunia ini dalam benakku.
            Dalam perjalananku, ya, seperti biasa, dari kampungku ke Makassar, saya harus naik pete-pete sebanyak 3 kali, Alhamdulillah, akhirnya aku sampai dijalan raya sekaligus sebagai tempat untuk mengambil pete-pete menuju ke daya, mobil, motor, serta bentor lulu lalang didepanku, siswa-siswi berjejer dipinggir jalan sambil bergurau bersama teman-temanya, sedangkan aku berdiri sepi disini, dibawah pohon rindang, kuarahkan pandanganku disebrang jalanan saya, tiba-tiba kumelihat sosok seorang pemuda yang sedang membonceng nenek tua yang sudah berusia senja, dalam fikiranku pemuda itu adalah seorang anak yang sangat berbakti, kupandangi mereka dengan wajah yang berseri, tiba-tiba mereka berhenti disebrangku, kemudian nenek itu memberi uang kepada pemuda itu, ternyta pemuda tersebut bukanlah anaknya, tetapi pemuda tersebut adalah tukang ojek, nenek itu bergabung bersama kedua perempuan dewasa yang sedang berada ditemapat itu, akhirnya pete-pete yang menuju ke daya pun telah ada, eh ternyata nenek dan kedua perempuan dewasa tersebut juga sama tujuan kami, sehingga aku dan mereka sepete-pete dengan mereka, barangkupun kusimpan didepan pintu pete-pete tersebut karena padatnya penumpang, akupun begitu, aku tak merasa asyik seperti penupang lainnya karena padatnya penumpang akhirnya aku duduk seadaya saja. Pete-pete tersebutpun melaju dengan cepat secepat kilat yang menyambar, betisku gemetar dan sekujur tubuhku saki terutama bokonku, tetapi aku tetap terus menahan sakitnya.
            Mata indah ciptaanya ini asyik memandangi pemandangan dalam perjalananku, sawah-sawah yang tandus karena musim panas yang berkepanjangan tahun ini, para pedagang dipinggir jalan yang sedang menanti para pembeli, bangunan-bangunan rumah penduduk dari tradisional ke modern dari bahan kayu hingga semen, betapa besar nikmat yang telah engkau berikan kepada kami terutama kepintaran, dari nikmat inilah dunia dapat terbentuk seperti ini, walaupun tak seindah, serapi dengan apa yang engkau ciptakan dipermukaan bumi ini. Tiba-tiba kumendengar suara yang halus, tapi udah tak segar seperti suaraku atau seusiaku, kubalikkan wajahku dengan mata yang berseri dan tersenyum dengan penuh keikhlasan, dan ternyata suara itu adalah nenek tua yang tadi saya lihat, ketika menanti pete-pete, nak ada uang kecilmu, uang nenek Rp. 50.000 nak, maaf yang nek, saya tidak punya uang kecil nek.dalam benakku nenek ini sangat pemberani pergi dengan sendiri dalam perjalanan yang jauh, apalagi kondisi sekarang criminal-kriminal bebas ada dimana-mana. Satu-persatu penumpang turun ditempat tujuannya, dan satu persatu pula penumpangpun ada, akhiranya seimbang deh.
            Kini kamipun sudah berada didaerah mandai yang sudah dekat dengan tempat tujuan, Alhamdulillah penumpang yang berada ditempat duduk didepanku turun, hingga akhirnya kumeminta kepada salah seorang ibu yang duduk disitu agar mengatur duduknya, hingga kudapat duduk disitu, wah begitu nyamanya perasaan ini, ehtiba-tiba kumemandang kearah tempat dudukku tadi, kemudian sorang cewek memandangiku sambil tersenyum dengan setulus hati sehingga terpancar cahaya diwajahnya dengan bentuk keimutan dan kemanisan wajahnya begitupun denganku, kutatap wajahnya dengan menamparnya dengan keimutan dan kemanisan wajahku pula kepadanya. Angin masuk kesela-sela jendela menan[par kami dengan tamparan kesejukan, mentari menyapa dengan senyuman keceriaanya sepanjang zaman, sedangkan langit sedang asyik mengikuti kami bersama teman-temanya sibiru dan siputih.
            Akhirnya kamipun sampai didaerah daya tiba-tiba nenek tua itu berkata kepada pak supir ke pannampu ki daeng, pak supir itupun menjawab, maaf nek, daerah tersebut udah lewat dari tadi nek, mendengar jawaban pak suir itu rauk wajah nenek tua itu berubah cenmas dan pucat, saya dan para penumpang lainnya sangat khawatir kepadanya. Tapi Alhamdulillah pak sufir itu berhati emas sekali, dia tidak memikirkan uang saja, tapi memikirkan kebahagiaan penumpangnya, sehingga rela mengantar nenek tua itu ketempat dimana ia dapat menyambung arak ketempat ia tuju yakni PANNAMPU.

Senin, 15 Oktober 2012

Kepasar


Kepasar

            Matahari telah terbit setinggi tombak, kira-kira sekitar jam 9 pagi, saya pun berinisiatif kepasar untuk membeli barang  dagangan, karena barang daganganku telah banyak yang berkurang, dan juga telah banyak yang habis, sayapun menghitung uang hasil daganganku yang kudapatkan selama  se  minggu, Alhamdulillah, aku mendapatkan rejeki sebanyak Rp. 34.000,00, saya sangat bersyukur kepada allah atas rejeki yang ia limpahkan kepadaku, akupun meminta izin kepada ibu ku, untuk kepasar, ibupun juga menitip untuk dibelikan mie, setelah aku terima uang darinya, akupun membuat catatan kecil di sebuah potongan kertas yang ujurannya kecil apa-apa saja yang nantinya saya beli, aku pun selesai mengerjakannya. Mama aku pergi dulu kataku kepadannya dengan senyuman manis yang kuhamparkan kepadanya, ya nak, hati-hati jawab ibu ku dengan senyuman manis pula kepadaku.
            Akupun pergi dengan mengendarai sepeda tua milik ayahku, dalam perjalananku kepasar mentari selalu menyapaku dan menemaniku dengan senyuman kecerahannya yang terpancar diwajahnya, sedangkan angin menampar-nampar tubuhku dengan kesejukannya, tak hanya itu, mobil, bentor, serta motor luluh lalang melaju dengan kencang mendahuluiku, selain itu aku melihat sepasang suami istri yang sedang berbincang-bincang di halaman rumahnya, sepasang suami isri itu adalah tante dan om, saya pun memandangnya kearah mereka dengan senyuman saja, karena tak ingin mengganggu kemesraan mereka berdua, akupun melaju dengan sangat cepat, akhirnya akupun sampai di toko yang aku tuju.
            Sepedaku, aku simpan dibawah pohon, agar dia juga mersakan kesejukan hembusan angin , akupun masuk kedalam toko, toko ini adalah milik om ku, dia adalh adik sepupu ayahku, namanya h. darwis, saya melihat seorang gadis yang cantik, kaka cia sapanku kepadanya, dia pun membalasnya dengan senyuman yang mais kepadaku, dia adalah tanteku, dia seorang anak yatim piatu, akupun masuk kedalam toko, kemudian aku mengambil catatan kecil disebuah potongan kertas yang kecil dari dalam saku celanaku,  kemudian aku buka dan membacanya, akupun mencari barabg dagangan yang aku ingin beli, sesekali ku memandangi seluruh ruangan toko ini, tokoh milik om ku ini, ukurannya sangat kecil, tetapi walaupun begitu,  pembelinya begitu ramai, karena dia orangnya cerdas dalam ilmu perdagangan, dan tidak hanya itu dia orangnya sangat ramah dan bijaksana, Alhamdulillah, akhirnya semua barang dagangsn yang aku butuhkan sudah ada didepan mata, tinggal aku bawa ke om ku, untuk menghitung berapa banyak yang harus aku bayar, akupun mengambil semua barang daganganku ke tempatnya, eh nak, sapaanya sambil tersenyum dengan penuh cinta dan kasih kepadaku, nak, tolong hitungkan harga keseluruhan barang dagangan kakamu ini, kata om ku kepada putrinya, iya pak sahut putrinya dia uni panggilan akrabnya, dia sepupy dua kali aku, dengan seriusnya ia menghitung harg barang dagaganku, akhirnya dia telah selesai menghitungnya, Rp. 36.300,00 kataby kepadaku dengan pancaran kasih sayang kepadaku, kemudian sayapun mengambil uang disaku celanaku, ketika aku menghitung uang aku, saya kagrt, tadikan aku bawa uang sebanyak Rp. 37.000,00. Knapa uangku hanya Rp. 27.000,00, Rp 10.000,00 nya dimana fikranku bertanya-tanya, munkin ketinggalan dirumah, dalam benakku. akupun berkata kepadanya, pop ice  dengan marimas tidak usah dek, karena uang aku tidak cukup, dia pun mengeluarkan kedua jenis minuman itu dari kantongan yang telah ia ikat dengan rapi, selanjutnya ia menghitung kembali harga barang keseluruhan  barang daganku, semuanya Rp 25.300,00, kak, katanya kepadaku dengan ekspresi wajahnya begitu serius, akhirnya akupun membayarnya, sayapun permisi kepada om dan adik sepupuku.

Kerinduan Hati sang Nenek

Kerinduan Hati sang Nenek


Sudah sepuluh tahun, kakek meninggalkan kami di dunia fana ini, kini hati nenek hidup sendiri, walaupun begitu nenek tetap tegar menghadapi rintangan didunia yang samentara ini.
Nenek memiliki tujah orang anak satu orang anak perempuan dan enam orang laki-laki, tapi semua ketujuh anaknya telah menemukan pasangan hatinya masing-masing dn telah membangun istana masing-masing, 3 orang anaknya meratapi hidupnya diluar Sulawesi selatan, ada yang tinggal ternate, sorong dan menado, mereka hanya dapat menjenguk nenek dengan jangka waktu menghitung tahun, sedangkan keempat anaknya tinggal sekampung dengannya, walau begitu, dia tetap merindukan penyatuan kebahagiaan cinta yang terajut dengan mereka.
Akhirnya Nenek tinggal diistananya yang ia bangun dengan perjuangan dan  pengorbanan cinta dan kasih sayang serta tenaga bersama kakek, ditemani oleh kakak sepupuku yang bernama saharia, dia di asuh oleh nenek, sekitar umur tiga bulan, dia putrid dari anak pertama nenek yang bernama hasna, kini kakak sahariah telah tumbuh dewasa menjadi seorang gadis yang cantik dan juga pintar, Alhamdulillah pasangan hatinya pun telah datang menjemputnya, hanya beberapa tahun ia bersama pasangan hatinya serta buah hatinya tinggal bersama dengan nenek, ia pun mendapatkan rejeki, sehingga membangun sebuah rumah, akhirnya nenek pun tinggal sendiri di istana itu, tapi hanya sementara, selanjutnya kakak sepupuku yang bernama nurbaya, dia putrid dari anakya bernama sata, kak nurbaya menemani nenek tinggal di istananya dengan hitungan jari saja dalam setiap seminggu, karena kak nurbaya pulang pergi kerumahnya untuk membantu ibunya, jadi, ketika kak nurbaya balik keistananya, nenek pun bagaikan binatang luluh lalang melangkahkan kakinya kerumah saudaranya, anak-anaknya serta cucu-cucunya, memiliki diantara mareka, siapa yang akan ia langkahkan kaki indahnya ke istananya utuk berteduh serta berbagi keceriaan bersamannya, selsnjutnya, kak nurbaya pun meninggalkan nenek, karena pendidikannya yang udah selesai di ma Darussalam, ia pun kembali kerumahnya untuk mengabdikan tenaga serta cinta dan kasih kepada kedua orang tuannya serta kepada adik-aadiknya masih mungil dan imut-imut, nenek pun kembali hidup sendiri di istananya, tapi Alhamdulillah pula, adik  sepupuku yang bernama ana, putrid dari anaknya yang bernama adam, kini tinggal bersama, nenek merasa sangat senang, dan bahagia atas cinta dan kasih sayang yang ia  dapatkan dari cucunya sendiri, hasil dai jeripaya anaknya.
Ketika aku keistananya, menjenguk sekalian bersilaturahim dengannya. Sering aku melihatya duduk dikursi ruang tamunya, matanya memandangi foto anak-anaknya yang meninggalkannya demi memenui kebuthan hidupnya, lama-kelamaan ia pun berlinangkan air mata di bola matannya yang penuh dengan cinta dan kasih sayang.
Dalam benakku berkata, aku mengerti nek, perassaan nenek sekarang, pasti nenek merindukan senyumanya . tawanta, candanya, tutur katanya, terutama panggilan ibu yang tulus dan ikhlas terucap dibibir mareka
 yang penuh dengan sejuta cinta.
            Assalamu alaikum nek sapaanku kepadanya, waalaikumussalam, cucuku jawabnya dengan wajah yang terpancar sejuta cahaya kasih. Silahkan masuk cucuku pintahnya dengan tutur kata yang lembut kepadaku, akupun masuk kedalam istananya, nenek  melayaniku dengan cinta dan kasih sayang yang terpancar diwajahnya yang telah keriput, termakan oleh waktu.


Dasar Bengkak











 Dasar Bengkak          

                Mentari telah redup disiang hari, seakan-akan ia beristirahat sejenak dibalik awan yang biru diatas langit sana, aku resah dirumah, bapak yang sedang pergi ke empang, sedangkan ibu sedang menikmati tidur siangnya, sedangkan aku,  bingun apa yang harus  kulakukan, akhirnya, kulangkahkan kakiku kedepan teras rumahku, kemudian kubalikkan wajahku kearah barat dan melihat kearah rumah sepupuku, hatikupun berkata mendingan gue naik aja kali kerumah sepupu, sapa tau kalau aku kerumahnya gue mendapatkan kegelimpahan cahaya cinta dan kasih sayang diantara kami, guepun melangkahkan kedua kaki ini kerumahnya, mentari menyapaku dengan cahaya keredupannya, sedangkan, angin menampar-nanmpar tubuhku dengan tamparan kesejukannya. Selangka demi selangkah kakiku melangkah dianak tangga, gue sampai diatas rumahnya, sepupukupun melihatku, kak ikbal sapaanya yang begitu lembut kepadaku dan suara nya yang begitu nyaring, ia pun memanggil kakaknya, kak nur, kak ikbal ada didepan sedang duduk-duduk, dek pasti bohong ejekannya kepada adiknya, beneran,  kakak ikbal ada diluar sedang duduk.
            Saya yang sedang asyik duduk memandangi dan mendengarkan perbincangan angin dengan hembusannya, adik sepupuku pun datang menghampiriku dengan mengenakan sarung ditubuhnya dan rambutnya yang belum tertata dengan rapi, serta terlihat basah,   dek nur, baru sudah mandi tanyaku dengan tutur kata yang lembut padannya,  iya kak ikbal, kalau begitu dek nur, kenakan pakaian dulu, kalau sudah selesai barulah de knur kesini, perintahku padannya, iyapun mengikuti apa yang kuperintahkan kepadannya. Dek fiska dan dek lia pun menuju menghampiriku, dek fiska membawa sebuah balon dan segulung benang, kak, tolong pegangkan tempat gulungan benang ini pintahnya padaku, akupun meengikuti perintahnya, kupandangi gerak gerik tubuhnya yang sedang serius menperhatikan panjang ukuran benan yang ia inginkan, kemudian ketika ukuran benang itu telah sepadam, barulah ia mengikatkan dimulut balonnya, sedangkan dek lia sedang sibuk mengotak atik sarungyang sedang dijemu maklum dia masih balita.
            Dek nurpun menghampiri kami yang sedang asyik bermain-main melemparkan senyuman dan kasih sayang diantara kami, dek nurpun duduk disampingku, tiba-tiba saja ia bertanya kepada adiknya dek lia yang masih balita, siapa yang cantik tnaya nur kepadanya, saya  jawab dek lia dengan senyuman yang indah mempesona diwajahnya, de knur melanjutkan pertanyaanya siapa jelek, ka knur jawabnya sambil tertawa seakan-akan ia amatlah meresapi jawabannya sendiri, mendengar semua itu kamipun tertawa terbahak-bahak, hingga ayam serta pohon pisang iri dengan kami, ayam jantan itu menunjukkan keirihannya dengan berkokoh dengan lantan, sedangkan pohon pisang mngibas-ngibaskan wajahnya kepda kami.
            Saya dengan de knur punsaling berhadapan, tak sengaja tanganku ini menyentuh betisnya, ahh teriakanya begitu terasa sakit, kenap Tanyaku dengan keheran-heranan, kakiku bengkak katanya sambil mengangkat celannya untuk memperlihatkan bengkakya itu, akhirnya akupun melihat bengkak dikakinya, waduh besar sekali jawab ku dengan spontan. Ibupun memanggilku untuk pulang, akhirnya aku ermisi dengan de knur, dek fiska dan dek lia, sambil melihatin mereka dengan penuh cinta dan kasih.
            Dua hari kemudian, dek nur kerumah, dan menghampiriku duduk di kursi plastikku akupun mempersilahkannya dengan hormat padanya, iyapun duduk disampingku sambil makan-makan mie, sekitar 15 menit kemudian, iyapun memperlihatkan bengkatan kakinya itu kepadaku, Alhamdulillah bengkatan kakiku udah menetas melahirkan cucuran darah dan nanah, walau begitu dia tetap mesakan sakit yang begitu mendalam ia sulit untuk berjaln, jika ia berjalan ia seperti orang yang pincang saja, sayapun berkata dasr bengkak, ngeselin banget sih udah jelek, udah jahat, ca..pedeh, ejekanku kepadannya.